Media Dalam Prespektif Ekonomi dan Politik
Teori Ekonomi Politik Media
Ekonomi politik media terkait dengan masalah kapital atau modal dari para investor yang bergerak dalam industri media. Para pemilik modal menjadikan media sebagai usaha untuk meraih untung, dimana keuntungan tersebut diinvestasikan kembali untuk pengembangan medianya. Sehingga pengakumulasian keuntungan itu, menyebabkan kepemilikan media semakin besar.
Dalam menjalankan media, investor mempekerjakan karyawan untuk menghasilkan produk media. Untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana media memproduksi isi, mendistribusikan sehingga bernilai ekonomis, Vincent Mosco menawarkan tiga konsep untuk mendekatinya yakni: komodifikasi (commodification), spasialisasi (spatialization) dan strukturasi( structuration).
Komodifikasi berhubungan dengan
bagaimana proses transformasi barang dan jasa beserta nilai gunanya menjadi
suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar. Spasialisasi, berkaitan
dengan sejauh mana media mampu menyajikan produknya di depan pembaca dalam
batasan ruang dan
waktu. Pada aras ini maka struktur
kelembagaan media menentukan perannya di dalam memenuhi jaringan dan kecepatan
penyampaian produk media di hadapan khalayak. Strukturasi berkaitan dengan
relasi ide antar agen masyarakat, proses sosial dan praktik sosial dalam
analisis struktur. Strukturasi dapat digambarkan sebagai proses dimana struktur
sosial saling ditegakkan oleh para agen sosial, dan bahkan masing-masing bagian
dari struktur mampu bertindak melayani bagian yang lain. Hasil akhir dari
strukturasi adalah serangkaian hubungan sosial dan proses kekuasaan
diorganisasikan di antara kelas, gender, ras dan gerakan sosial yang
masing-masing berhubungan satu sama lain.
Teori ekonomi politik
memiliki kekuatan pada tiga hal yaitu berfokus pada bagaimana media dibangun
dan dikendalikan, menawarkan penyelidikan empiris mengenai keuangan media, dan
mencari hubungan antara proses produksi konten media dan keuangan media (Barant,
2010:263)
Teori ekonomi politik
bersifat kritis, dimana teori ini mengajukan pertanyaanpertanyaan tentang
segala sesuai dan menyediakan cara-cara pengganti untuk menafsirkan peran
sosial media.
( Barant,2010:252).
Teori ekonomi politik media fokus pada media massa dan budaya massa, dimana keduanya dikaitkan dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Teori ini mengindentifikasi berbagai kendala atau hambatan yang dilakukan para praktisi media yang membatasi kemampuan mereka untuk menantang kekuasaaan yang sedang mapan. Dimana penguasa membatasi produksi konten yang dilakukan pekerja media, sehingga konten media yang diproduksi tersebut kian memperkuat status quo. Sehingga menghambat berbagai upaya untuk menghasilkan perubahan sosial yang konstruktif. Upaya penghambatan para pemilik pemodal, bertolak belakang dengan teoritikus ekonomi politik ini, yang justru aktif bekerja demi perubahan sosial.
Hubungan Integral Media dengan
Politik dan Ekonomi di Indonesia
Secara epistemologis, menemukan
relasi integral antara dimensi ekonomi dan politik dalam kerja media tentu saja
menjadi pertanyaan paling menarik. Berangkat dari apa yang kita konsumsi
sehari-hari melalui media; berita, iklan, film, atau berbagai tayangan hiburan.
Memahami relasi integral antara sistem ekonomi dan politik yang berkeliling dan
dalam proses produksi dan distribusi produk media, maka sesungguhnya
“pembacaan” atau “pemaknaan” yang kita lakukan itu telah masuk dalam wilayah
ekonomi politik media. Berjalinnya semangat ekonomi dan politik memungkinkan
terintegrasinya proses ekonomi, politik, sosial, dan budaya dalam masyarakat.
Ekonomi politik media berupaya untuk membuat media bukan hanya sebagai pusat
perhatian pokok, melainkan sebagai bagian dari suatu struktur yang terkait
dengan ekonomi dan politik.
Mencermati relasi integral antara
media dengan politik dan ekonomi dalam konteks Indonesia di era pasca reformasi
dengan kasus diberlakukannya sistem media lokal pada tanggal 28 Desember 2009,
semakin terlihat industri media begitu “dominan” mempengaruhi kehidupan ekonomi
dan politik di Indonesia, bahkan berkecenderungan memunculkan berbagai
persoalan baru.
Fenomena itu semakin menguat
seperti digambarkan oleh Henry Subiakto (2009:3), dalam makalahnya berjudul
“Membangun
Masyarakat Cerdas dengan Media Nasional yang Sehat”, bahwa perkembangan
teknologi komunikasi, globalisasi dan komersialisasi media massa telah
memunculkan persoalan baru. Dewasa ini media massa tumbuh tidak hanya menjadi
kekuatan pengontrol kekuasaan. Media massa sendiri telah menjadi kekuatan yang
yang berpengaruh secara politik, ekonomi dan budaya.
Kekuatan media
massa justru bisa menjadi ancaman demokrasi.
Masih menurut Subiakto (2009:3),
mengutip Herbert J. Gans dari Columbia University, melihat adanya kondisi
masyarakat yang mengalami ketidakberdayaan (disempowerment),
baik secara politik, maupun ekonomi. Menurut analisis Gans, dewasa ini terjadi
gejala ketidakpercayaan di seluruh dunia (distrust
arround the world) terhadap institusi politik. Warga negara semakin tak
berdaya (powerless) dihadapan
institusi politik, ekonomi dan juga di hadapan media massa. Terjadi ironi,
media massa yang seharusnya memperkuat peran warga negara dalam sistem
demokrasi, ternyata justru lebih banyak terdistorsi dan mengalami kendala
sendiri.
Relasi integral antara media,
politik dan ekonomi di Indonesia pasca reformasi, di satu semakin memperkuat
institusi media massa dengan kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi
praktis-pragmatis, yang bahkan bersekutu dan menjadi bagian yang tak
terpisahkan atas dasar berbagai kepentingan relationship
di antara ketiganya. Sementara di satu sisi, relasi integral yang “strategis”
itu, semakin melemahkan posisi, peran dan partisipasi masyarakat sebagai
khalayak media massa sekaligus sebagai subyek dan obyek dari kepentingan
politik dan ekonomi masyarakat dalam sistem sosial masyarakat dan negara.
Daftar Pustaka
https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/avantgarde/article/download/34/25
http://plj.ac.id/ojs/index.php/jrksi/article/viewFile/50/39
https://journal.ubm.ac.id/index.php/semiotika/article/download/1945/1587
https://e-jurnal.lppmunsera.org/index.php/LONTAR/article/download/344/388
Komentar
Posting Komentar